Yogya-Gaza (1948-2008)
January 8, 2009 by salim-a-fillah
Ini release yang saya susun untuk harian Kedaulatan Rakyat. Kepada rekan-rekan yang membaca, mohon dengan sangat bisa menyebarluaskannya via blog, milis, e-mail, dan apapun saran yang memungkinkan. Bantuan insyaallah akan disalurkan kepada HAMAS, bukan yang lain. Semoga menjadi bagian dari jihad kita! Allaahu Akbar!
Yogya-Gaza (1948-2008)
Desember 1948, wilayah Republik Indonesia yang telah menyempit pasca perjanjian Renville hingga tinggal Yogyakarta dan sekitarnya diagresi Belanda. Panglima Besar Jenderal Soedirman dan TNI bersama seluruh rakyat menolak untuk menyerah. Perlawanan dikobarkan, gerilya dilangsungkan. Dengan pengorbanan yang luar biasa dari segenap rakyat melalui pertempuran berbulan-bulan, akhirnya Republik Indonesia mampu bertahan, dan bahkan mendapatkan kemerdekaannya secara penuh.
Desember 2008, tepat 60 tahun kemudian, Israel mengagresi Gaza, bagian kecil yang tersisa dari wilayah Palestina yang dijajah sejak 1948. Hamas beserta rakyat Gaza, seperti halnya Jenderal Soedirman dan rakyat Indonesia, menolak untuk tunduk. Belanda dan Israel juga setali tiga uang, penjajah yang tak menghormati perjanjian.
Gaza diserang setelah berada dalam kondisi lemah karena blokade berbulan-bulan. Seluruh akses masuk, listrik, air, makanan, bahan bakar, dan semua kebutuhan pokok ditutup oleh Israel. Sebuah tembok yang tingginya tiga kali lipat tembok berlin, dengan panjang sepuluh kali lipatnya dibangun untuk mengisolasi mereka.
Dan kini Gaza diserang membabi buta. Hingga hari keduabelas agresi, hampir 700 korban tewas, dan lebih dari 3000 lainnya terluka (www.infopalestina.com). Padahal fasilitas rumah sakit, ambulans, bahkan sekolah tempat berlindung darurat tak luput dari bombardir Israel. Tapi sekali lagi kemerdekaan harus diperjuangkan. Rakyat Gaza telah bersemboyan seperti gaung teriakan Bung Tomo dan para pejuang kemerdekaan kita, ”Merdeka atau mati!”
Yogyakarta dan Gaza adalah kota perjuangan.
Indonesia dan Palestina adalah bangsa pejuang.
Ada satu hal lagi yang patut kita catat dalam hubungan indah Indonesia-Palestina. Ini terjadi ketika Menteri Luar Negeri RI, Haji Agus Salim dan tim diplomasi Indonesia berkeliling Timur Tengah untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan. Al Hajj Amin Al Husaini, Mufti Besar Palestina, menjadi orang yang pertama kali menyiarkan kemerdekaan Indonesia itu melalui radio internasional. Masyarakat Timur Tengah dari Mesir, Suriah, hingga Irak, dan terutama Palestina menjadikan kemerdekaan Indonesia itu sebagai inspirasi perjuangan mereka. Hingga kini.
Preambule UUD 1945 kita belum berubah. Ia masih mengamanahkan bahwa ”Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Sebuah kewajiban sejarah menanti kita untuk membantu Palestina. Mereka membutuhkan dukungan doa dan dana untuk melanjutkan perjuangan, mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Salurkan bantuan jihad anda melalui Bank Syariah Mandiri no rek. 1540006443, a.n. M Fanni BDN Palestina.
mas Salim, mbok ditambahi… nanti dikirim kemana? dan mas fanni itu atas nama BKPRMI, PRO-U, pribadi atau gimana… kan biar cetho… salam jihad!
eh, dikirmnya kemana sudah jelas dink… maksudnya pertanyaan berikutnya tadi… siip!
[...] fsldk, juga kepada akh Shofwan ABCD atas artikel “surabaya”nya & akh Salim Fillah atas artikel “Jogja”nya (sebentar lagi saya mau bikin juga artikel versi Bandung). Salam saya kepada para pejuang [...]